Saturday, July 29, 2006
Fesyen, Prejudis, Hingga Infotainment : Birahi Kekerasan Psikologis
“Sebuah keluarga muda-kecil-bahagia memasuki gedung supermarket. Tampak sang ibu menggandeng anak pertamanya. Baru saja lulus Taman Kanak-kanak. Beberapa orang yang berpapasan tertegun melihat mereka. Sang Ayah, berambut layaknya sapu, jaket kulit, rantai dan dua tato ular di lengan setia menemani. Sepatu bot tentara tampak gagah dipakai. Ibunya setali tiga uang. Bahkan lebih warna-warni pada mahkotanya. Ketika berbelanja, sang anak berlarian dan hilang dari pandangan. Sempat mencari, akhirnya Ayah pun menangkap jagoan kecilnya. Sambil menggendong, ia berkata “Jangan jauh-jauh dari Ayah atau Ibu. Bisa-bisa kamu nanti diculik orang yang mengerikan”.”
Guyonan ini sempat dimuat di sebuah majalah berbahasa inggris yang sudah ditransliterasikan menjadi bahasa Indonesia. Tersenyum? Mungkin bisa ironi. Fesyen memang telah menjadi sebuah identitas. Tapi konstruksi persepsi berdasar apa yang kita lihat, relasi visual penglihatan dengan apa yang pertama muncul di benak kita, telah mengalami pergeseran. Sejak awal memang ke-aku-an tak pernah muncul di komunitas komunal yang menghuni nusantara. Gotong royong, rame-rame, dan kebersamaan adalah sebuah spirit.
Ketika fesyen sebagai identitas telah ditentukan secara sadar ke dalam diri kita sendiri, dan secara tidak langsung akan menggeser peran dan konsep komunitas komunal itu, bolehkah kita mengeluarkan prasangka? Adalah memang, secara psikologis, seseorang tidak mudah menerima apa yang tak ia ketahui sebelumnya. Waspada, sebuah mekanisme pertahanan diri sendiri. Begitu juga, sesuatu yang menjadi determinan akan menjauhkan dirinya dari rasa aman. Karena ia beda, maka ia tak sama. Walau secara peran, pria berdandan beda tadi adalah sama, sebagai seorang ayah yang melindungi kepentingan keluarganya, buah hatinya, putranya.
Dalam dunia sosiologis, peran dapat diartikan sebagai sebuah set harapan budaya terhadap posisi tertentu. Kita dapat mengatakan peran pria tadi sebagai Ayah, jika dia menampilkan ‘identitas’ diri, kepribadian, perilaku verbal (berbahasa layaknya seorang ayah), non-verbal (tegas, bisa melindungi, bahasa tubuh dsb) seperti seorang ayah seharusnya. Sementara ‘identitas’ awal yang kita pahami adalah berdasar pada fesyen, tampilan visual yang dianutnya.
Andreas Schneider mengungkapkan peran lebih mengacu pada harapan (roles refer to expected) dan tidak sekedar pada perilaku aktual. Juga bersifat normatif daripada sekedar deskriptif. Harapan seorang anak, terhadap ayahnya, adalah menjadi seorang ayah. Yang melindungi, tegas dan memberikan rasa aman. Namun, apa harapan seorang ayah yang lain, ketika anaknya bertatap muka dengan sang pria rambut sapu tadi? Peran prasangka, akan bermain cukup kuat. Seorang aktor utama, prasangka tadi akan bisa berubah menjadi tingkat yang lebih tinggi. Diskriminasi, pelecehan, permusuhan, bahkan mungkin eksterminasi.
Dalam pendekatan sistem tanda, Umberto Eco sebagaimana dijelaskan oleh Yasraf (2003), mengatakan semiotika adalah berkutat pada segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie). Bahwa pada prinsipnya satu bentuk representasi adalah sesuatu yang hadir namun menunjukkan bahwa sesuatu di luar dirinyalah yang dia coba hadirkan. Representasi dandanan beda dan rambut sapu dari sang pria tadi, adalah mungkin bentuk kesadaran, mungkin juga kebohongan. Tapi tak serta merta kita berhak untuk melabelinya sebuah teror. Fesyen dapat ber-relasi menjadi sebuah persepsi yang mungkin terdistorsi menjadi prasangka. Distorsi dalam komunikasi dan informasi visual. Seperti halnya dunia infotainment yang mulai meresap dalam pembicaraan hingga pemikiran manusia Indonesia mutakhir ini. Dimana pergunjingan akan sebuah peran seseorang dan konsekuensinya adalah lumrah untuk diketahui secara komunal. Pembenaran akan menjadi sebuah identitas yang akan sering dilihat, menjadi figur publik, serta merta memberikan justifikasi untuk mengorek kehidupan bahkan kepribadian seseorang.
Penampilan, fesyen, imaji, persepsi dan ilusi tertuang menjadi bentuk budaya yang luar biasa mengakar pada masyarakat kosmopolitan pos-milenium dan pos-republik di nusantara kini. Simulakrum yang mentah menjadi guru, di-gugu dan di-tiru. Dipercaya dan ditiru. Bentuk-bentuk komunikasi dan informasi visual mudah dicari, dicerna dan diterima. Komunitas komunal yang dulu bertahan pada falsafah membangun bersama, kini menjadi komunitas komunal yang bertahan pada imaji dan identitas bohong yang sama, akibat konstruksi media massa visual.
Infotainment pun seolah ingin unjuk gigi menjadi penyeimbang, berkata manis, penuh tawaran moral dan pesan ketimuran. Namun sungguh, ketika figur publik memiliki nilai guna, maka prasangka adalah komoditas. Ketika seorang Andhara Early hamil setelah diberitakan cerai dengan suaminya, seolah opini digiring. Andhara bermain selingkuh dengan pria lain. Zina. Sebuah tuduhan seram, seseram hukuman adat, dan agama yang ada. Begitupun Pingkan Mambo, yang tiba-tiba dititipi sebuah nyawa tambahan, persepsi terbentuk berdasar prasangka. Ada apa dengan Pingkan? Sudahkah ia menikah? Apakah memang itu lazimnya perilaku manusia berkostum panggung, erotik dan eksotis, menarik, rambut warna cerah, baju sobek, tonjolan seksi, cantik, indo, tampan, parlente, dan segala topeng karakter dunia hiburan? Bebas dari norma, dan bergaul sesukanya?
Terlepas apakah memang seperti itu, kini main hakim sendiri tak cuma konsumsi preman dan kumpulan masyarakat bawah yang sakit secara ekonomi. Di tengah keluarga kita pun, di dalam diri kita pun, proses pengadilan telah terjadi. Berdasar apa yang kita tonton, dan mungkin secara sadar, kita pun mengamininya bahwa kita adalah hakim sekaligus jaksa. Ketika beda adalah sebuah hal yang kentara, waspada kita telah berubah menjadi sebuah eksekusi. Benar dan salah, kita leburkan dalam sebuah konflik, dan labeli dengan sebuah kemasan indah, ragam berita infotainment. Memang, itulah sebuah proses pendewasaan masyarakat verbal menjadi masyarakat visual. Masyarakat yang mulai berhobi tak lazimnya masyarakat timur. Kegemaran baru masyarakat bumi elok khatulistiwa ini tidak lagi berusaha membangun bersama. Tapi hanyalah menggilai birahinya untuk menuduh sesama, cuma berdasar pada prasangka. Lalu, bukankah itu sebuah bentuk kekerasan psikologis?
Guyonan ini sempat dimuat di sebuah majalah berbahasa inggris yang sudah ditransliterasikan menjadi bahasa Indonesia. Tersenyum? Mungkin bisa ironi. Fesyen memang telah menjadi sebuah identitas. Tapi konstruksi persepsi berdasar apa yang kita lihat, relasi visual penglihatan dengan apa yang pertama muncul di benak kita, telah mengalami pergeseran. Sejak awal memang ke-aku-an tak pernah muncul di komunitas komunal yang menghuni nusantara. Gotong royong, rame-rame, dan kebersamaan adalah sebuah spirit.
Ketika fesyen sebagai identitas telah ditentukan secara sadar ke dalam diri kita sendiri, dan secara tidak langsung akan menggeser peran dan konsep komunitas komunal itu, bolehkah kita mengeluarkan prasangka? Adalah memang, secara psikologis, seseorang tidak mudah menerima apa yang tak ia ketahui sebelumnya. Waspada, sebuah mekanisme pertahanan diri sendiri. Begitu juga, sesuatu yang menjadi determinan akan menjauhkan dirinya dari rasa aman. Karena ia beda, maka ia tak sama. Walau secara peran, pria berdandan beda tadi adalah sama, sebagai seorang ayah yang melindungi kepentingan keluarganya, buah hatinya, putranya.
Dalam dunia sosiologis, peran dapat diartikan sebagai sebuah set harapan budaya terhadap posisi tertentu. Kita dapat mengatakan peran pria tadi sebagai Ayah, jika dia menampilkan ‘identitas’ diri, kepribadian, perilaku verbal (berbahasa layaknya seorang ayah), non-verbal (tegas, bisa melindungi, bahasa tubuh dsb) seperti seorang ayah seharusnya. Sementara ‘identitas’ awal yang kita pahami adalah berdasar pada fesyen, tampilan visual yang dianutnya.
Andreas Schneider mengungkapkan peran lebih mengacu pada harapan (roles refer to expected) dan tidak sekedar pada perilaku aktual. Juga bersifat normatif daripada sekedar deskriptif. Harapan seorang anak, terhadap ayahnya, adalah menjadi seorang ayah. Yang melindungi, tegas dan memberikan rasa aman. Namun, apa harapan seorang ayah yang lain, ketika anaknya bertatap muka dengan sang pria rambut sapu tadi? Peran prasangka, akan bermain cukup kuat. Seorang aktor utama, prasangka tadi akan bisa berubah menjadi tingkat yang lebih tinggi. Diskriminasi, pelecehan, permusuhan, bahkan mungkin eksterminasi.
Dalam pendekatan sistem tanda, Umberto Eco sebagaimana dijelaskan oleh Yasraf (2003), mengatakan semiotika adalah berkutat pada segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie). Bahwa pada prinsipnya satu bentuk representasi adalah sesuatu yang hadir namun menunjukkan bahwa sesuatu di luar dirinyalah yang dia coba hadirkan. Representasi dandanan beda dan rambut sapu dari sang pria tadi, adalah mungkin bentuk kesadaran, mungkin juga kebohongan. Tapi tak serta merta kita berhak untuk melabelinya sebuah teror. Fesyen dapat ber-relasi menjadi sebuah persepsi yang mungkin terdistorsi menjadi prasangka. Distorsi dalam komunikasi dan informasi visual. Seperti halnya dunia infotainment yang mulai meresap dalam pembicaraan hingga pemikiran manusia Indonesia mutakhir ini. Dimana pergunjingan akan sebuah peran seseorang dan konsekuensinya adalah lumrah untuk diketahui secara komunal. Pembenaran akan menjadi sebuah identitas yang akan sering dilihat, menjadi figur publik, serta merta memberikan justifikasi untuk mengorek kehidupan bahkan kepribadian seseorang.
Penampilan, fesyen, imaji, persepsi dan ilusi tertuang menjadi bentuk budaya yang luar biasa mengakar pada masyarakat kosmopolitan pos-milenium dan pos-republik di nusantara kini. Simulakrum yang mentah menjadi guru, di-gugu dan di-tiru. Dipercaya dan ditiru. Bentuk-bentuk komunikasi dan informasi visual mudah dicari, dicerna dan diterima. Komunitas komunal yang dulu bertahan pada falsafah membangun bersama, kini menjadi komunitas komunal yang bertahan pada imaji dan identitas bohong yang sama, akibat konstruksi media massa visual.
Infotainment pun seolah ingin unjuk gigi menjadi penyeimbang, berkata manis, penuh tawaran moral dan pesan ketimuran. Namun sungguh, ketika figur publik memiliki nilai guna, maka prasangka adalah komoditas. Ketika seorang Andhara Early hamil setelah diberitakan cerai dengan suaminya, seolah opini digiring. Andhara bermain selingkuh dengan pria lain. Zina. Sebuah tuduhan seram, seseram hukuman adat, dan agama yang ada. Begitupun Pingkan Mambo, yang tiba-tiba dititipi sebuah nyawa tambahan, persepsi terbentuk berdasar prasangka. Ada apa dengan Pingkan? Sudahkah ia menikah? Apakah memang itu lazimnya perilaku manusia berkostum panggung, erotik dan eksotis, menarik, rambut warna cerah, baju sobek, tonjolan seksi, cantik, indo, tampan, parlente, dan segala topeng karakter dunia hiburan? Bebas dari norma, dan bergaul sesukanya?
Terlepas apakah memang seperti itu, kini main hakim sendiri tak cuma konsumsi preman dan kumpulan masyarakat bawah yang sakit secara ekonomi. Di tengah keluarga kita pun, di dalam diri kita pun, proses pengadilan telah terjadi. Berdasar apa yang kita tonton, dan mungkin secara sadar, kita pun mengamininya bahwa kita adalah hakim sekaligus jaksa. Ketika beda adalah sebuah hal yang kentara, waspada kita telah berubah menjadi sebuah eksekusi. Benar dan salah, kita leburkan dalam sebuah konflik, dan labeli dengan sebuah kemasan indah, ragam berita infotainment. Memang, itulah sebuah proses pendewasaan masyarakat verbal menjadi masyarakat visual. Masyarakat yang mulai berhobi tak lazimnya masyarakat timur. Kegemaran baru masyarakat bumi elok khatulistiwa ini tidak lagi berusaha membangun bersama. Tapi hanyalah menggilai birahinya untuk menuduh sesama, cuma berdasar pada prasangka. Lalu, bukankah itu sebuah bentuk kekerasan psikologis?