Wednesday, August 09, 2006
Pilih Ngeyel atau Masa Bodoh?
Suatu ketika, kakak saya ingin membeli sebuah kamera ponsel. Kebetulan libur semesteran membuat saya mungkin untuk menemaninya berbelanja. Kala itu teknologi kamera pada ponsel masih berupa fitur eksternal atau bentuk kamera clip-on. Kejadiannya di Semarang. Salah satu toko ponsel terkemuka di mal terbesar di ibukota Jawa Tengah. Pertanyaan kedua diajukannya. Setelah harga ia mulai menyentuh kemampuan dari kamera tersebut. Ini juga sebagai salah satu cara mengenal teknologi. Langsung dari tangan pertama distributor.
Pada kamera digital saat ini, kata paling berpengaruh adalah piksel. Dan itulah yang ditanyakan kakak saya dengan maksud mengetahui dampaknya pada kapasitas memori ponsel. Logikanya, semakin besar piksel, semakin besar kilobita atau megabita gambar. Semakin besar bita gambar, semakin sedikit kapasitas memori tersedia.
“Ini kameranya berapa mega piksel ya mbak?”
“Ini… berapa yah? Sebentar ya mbak. Saya tanya dulu”, sambil melengos mencari karyawan lain yang dianggap bisa. Seorang pria.
“oh itu masih kamera standar mbak”. Tidak menjawab pertanyaan.
“Trus hasil foto yang diambil pikselnya gede ga? Nanti memori ponsel saya cepet habis ga?” Untung kakak saya masih cukup sabar.
“Ya enggak dong Mbak. Piksel kan warna. Jadi ga bakal ngaruh juga ke ponsel”.
Tidak menjawab pertanyaan. Dan penuh percaya diri.
Akhirnya kakak saya cuma bisa terbengong. Dan mulai berkata “Terima kasih ya Mbak”.
Saya yang dari tadi mendengar sekilas, gatal juga untuk menyela pembicaraan dan mulai menerangkan apa itu piksel.
Tapi mungkin butuh waktu dua hari untuk melakukan itu. Dan kakak saya menyadarinya, dengan menarik tangan saya untuk segera pergi.
Lalu pengerjaan tugas akhir membawa saya kembali ke Semarang. Kali ini saya berhadapan dengan pencetakan hasil kamera poket digital di counter Kodak terbesar di kota ini. Cerita kali ini mungkin hanya sebuah masalah pelayanan. Tapi saya kira masih relevan. Birokrasi biasa. Saya tiba di meja penerimaan film. Masukkan flashdisk, pilih gambar yang ingin dicetak, lalu bayar. Walau tidak senyaman dan semenarik Jonas, tapi mau bagaimana lagi. Lalu keresahan terjadi begitu saja.
“Kira-kira berapa lama mas? Kalau…”
“Sabar ya mas!”. Sedikit menekan dan memotong perkataan.
Karena suasana tugas akhir dan panasnya
”Mas, ini bukan masalah sabar atau ga sabar. Saya cuma nanya. Jadinya berapa lama? Kalau lama saya tinggal, karena masih ada urusan. Kalau sebentar saya tunggu. Kok sabar?”
“…kira-kira satu jam mas”. Kali ini muka tertunduk.
“Ya sudah. Nanti saya kesini lagi. Terima kasih mas”.
Padahal saya hanya mencetak ukuran 4R, sekitar 5 lembar. Mesin tampak tidak bekerja, konsumen lain hanya satu.
Beberapa lama kemudian, Al-Arif teman saya, dipindah tugaskan di Semarang. Perusahaan ponsel besar dari Swedia mencari sarjana elektro ini sesuai dengan kemampuannya yang brilian. Memang brilian. Kadang saking briliannya, bercanda pun jadi sangat brilian. Sebentar, bukan itu intinya. Arif bercerita suatu hari mulai berurusan dengan karakter penjual Semarang yang sangat ber-pendidikan. Ceritanya Arif harus mengunjungi pusat komputer di salah satu plaza terbesar di tengah kota Lumpia. Objektifnya, mencari modem wi-fi. Wireless Fidelity. Singkatnya setelah ngobrol ke utara dan selatan, Arif menemukan barang yang dicari. Tapi untuk lebih meyakinkan, ia bertanya tentang fitur modem tersebut. Sang penjual tenang dan mantap menjelaskan.
“Ini, nanti yang ini dicolok kabel mas”.
“Lho, wireless kok pake kabel?”
“Lha iya Mas. Ini nanti harus disambung ke komputer, pake kabel lagi”.
“Tapi ini wireless lho pak..”
“Lha iyo mas..”
Tidak menjawab pertanyaan. Kelihatan ‘pintar’. Ngeyel pula.
Lalu kata terima kasih meluncur keluar dari mulut Arif yang jengkel. Detil ceritanya, silahkan mendengar dari Arif.
Tak hanya sekali saya berjumpa dengan situasi seperti ini. Masalah tren pun bisa mirip mengurus anak bagi sebagian korbannya. Lengah sedikit, label kolot mengikuti. Seperti di sebuah toko kaset. Kalau kita menyebutkan nama seniman musik yang bukan penganut arus utama, jawaban paling mudah dan cepat dilontarkan adalah “… habis mas”. Setelah sebelumnya bertanya “… apa tadi namanya mas?” dengan muka bingung dan malas. Tanpa ada keinginan untuk mencari dulu. Manual menelusuri tumpukan kaset ataupun secara digital di komputer. Yang penting merasa aman. Dan konsumen tidak bertanya-tanya lagi.
Baiklah. Sedikit prejudis sepertinya. Bisa jadi memang habis. Tapi pengalaman saya mencari kaset atau cakram kompak di Duta Suara jalan Sabang, Jakarta berkata lain.
Duta Suara adalah toko yang mengerti value dari toko dan value dari pelanggan. Toko musik lebih dari dua dekade ini, terkenal sebagai tempat bagi album rekaman paling tidak familiar di kuping sekalipun. Dan hebatnya, pegawai di sana hafal jelas harus mencari di rak mana. Mulai kaset jadul hingga paling kontemporer. Kalaupun yang kita cari habis, pegawai lapangan Duta Suara akan terlebih dulu melakukan cek ulang dengan pegawai yang berada di balik komputer. Sungguh sebuah servis!.
Namun kadang kita lupa. Pada satu titik persinggungan krusial ketika kita bersentuhan dengan konsumen sebagai penyedia jasa. Sebagus apapun posisioning yang dibombardirkan perusahaan anda dengan triliunan belanja iklan, semuanya bisa hilang ketika pelayanan menjadi krupuk kena air. Lalu saat kepercayaan pelanggan mulai terusik, saat itu juga anda harus mulai khawatir.
Ya, nila se-titik bisa merusak susu se-belanga.
Pelayanan adalah pasukan terdepan. Dari pelayanan yang maksimal, kepercayaan pelanggan dapat diraih. Tidak perlu menjadi genit dan berlebihan. Cukup dengan tersenyum, mencoba mengerti, dan memberikan solusi dari pertanyaan atau kebutuhan yang diajukan. Penguasaan pengetahuan akan produk yang kita tawarkan adalah penting.
Jangan pernah main-main dengan kepercayaan seseorang. Kalau tidak ingin kehilangannya.
Bisa jadi inilah bentuk komunikasi teror secara tak sadar. Kepercayaan konsumen ter-teror karena ke-ngeyel-an dan kekurangan ruang kepintaran pegawai. Dan ketika kita tidak nyaman, maka kita akan mencari kenyamanan lain. Kecuali memang, di tempat tersebut tidak terlalu banyak pilihan. Jadi mau tidak mau kita harus mulai memasang canthelan daripada kuping. Bersiap untuk sedikit menekan pengetahuan intelektual. Dan memberi kapasitas lebih luang dari dada kita.
Jadi, ngeyel atau masa bodoh?
Di Semarang kalo bayar parkir dikasih bon nggak? Di Bandung jarang sekali. Termasuk Ciwalk!
kalo di jalan mah, namanya survival dan sumber pendapatan, sama aja habitnya..
parkir gedung di semarang 2000 flat. di jalan masih 1000.
baru aja kemaren gue nganterin pegawai kantor beli oleh2 di pusat oleh2. gue kasih 5000 dikasih kembalian 3000, ga pake karcis pula...huhuhud
kekekeke....
eh iya didot!! ayo jawab jawab jawab...yang waktu itu ani sms-in...
ayolah ayolah ayolah...
rani : apa yah ran... itu campaign terselubungnya sapa? hehehe
apa dulu...apakah anda mengerti komunikasinya?
kan klo nggaberabe juga 'kita'...hehehe
itu entry CiPar...
makanya butuh masukan nih......
Sebenernya modem itu memang bisa dihubungin ke komputer pake kabel LAN biasa. Jadi si mas ga salah2 amat. Dia kali belum nyadar kalo dua batang yang nongol dari modem itu disebut 'antena'. Yang fungsinya meradiasikan energi listrik yang sudah dimodulasi secara Direct Sequence Spread Spectrum ke arah bla..bla..bla..
Kalo dia tau, kan bisa dijual lebih mahal lagi.
ajeng : sabar banget... soalnya orang kita dididiknya makan nasi sih, yang outputnya karbohidrat. Untuk ngehasilin tenaga, kerja kasar. Coba dari kecil diajarin untuk makan sagu dan makanan lain yang berprotein juga. : )
nah, tulisan ini gue ngerti... [hehehe... plagiat batari]. tulisan yang sebelum ini juga lumayan kok...
hmmm, kalo orangnya ngerti teknologi mah kerjaannya ga jaga toko. kalopun jaga toko, ntar gajinya lebih gede. trus karena si pemilik toko udah ngeluarin duit lebih untuk menggaji karyawan pinter, maka dia akan mencari untung lebih dari barang dagangannya. akibatnya produk yang dijual jadi lebih mahal. sehingga pada akhirnya, mungkin lo tetep ga beli di situ...
hoho... bener tak??
Gw gak mau ngomentarin soal piksel2an dan cerita2 lo ttg teknologi itu ah, tar salah2 gw malah dikatain ngeyel atau sok tau, secara gw juga beggoooo yah soal gituan, waahahaha..
Gw gatel pgn cerita soal mas2 toko musik yang suka sok tauuuu dan bikin gw kesel setengah mateee..
Dulu gw pernah nyari cd nya Jason Mraz (yeah, ni emang cuman dikit orang yg tau nama ini.. that's why gw cari kemana2 gak nemuuuu, sampe akirnya gw ngebajak mp3nya, susah2 ngumpulin dari wikan dan felix).
"mas, ada cd nya jason mraz gak?" gw nanya setelah capek nyari dan yakin kalo gak bakal nemu jg sih di tempat ini..
"ha? jason mrrr... hahaha.. gak ada." kata si mas2 yg ngakunya paling tauuuuu soal musik dengan mimik yang seolah bilang 'situ bego ya mbak, mana ada nama artis ky gitu? kalopun ada disini mana jual, situ cari aja sono di pulogadung!' dan gestur yg mengatakan 'udah sana pegi, ganggu gw ngupil aja!'
"gak ada... hmmm.. gak ada apa gak tau????" semprot gw dgn mata picik karena gw tau dia pasti akan jawab.....
"euuh.. gak tau.. hehehehe.. (lalu sambil berbisik ke temannya yg jauhnya sekitar 5 meter dari dia) Jason mrrrrr tu yang mana ya?"
WUOANJ*NG!!!!
kecuali memang orang membudidaya (menghasilkan budi daya) dengan tujuan mulia. seperti perancang software free ware dan share ware macam linux dan teman2nya.
ilma : hai ma.. hehe iyah, ga tahan juga pengen eksis di dunia maya heuheu.. kalo nemu kaya gitu, udah tinggalin aja.. cari tempat lain. Kan ntar yang rugi dia juga, karena ga punya pelanggan... (atau yang rugi kita, karena kita pelanggan minoritas?? hehehehe)
Btw, ngomongin soal servis, 'service' emang item andalan / garda depan sebuah jasa/usaha yang berkaitan dengan publik.
Nyomot dari diskusi di milis AMI/IAI, kalau kebanyakan kota besar Indonesia, bahkan Megapolitan Jakarta, adalah cerminan dari kumpulan/cluster 'kampung' yang besar, bukan 'kota/city'. Sehingga kultur, habit dan perilaku penduduknya juga kebanyakan cerminan kurang ber'kota'.
Intinya, SDMnya berusaha mencari identitas 'visual/fisik' seorang warga 'kota', tapi belum 'menghayati' dan menerapkan ke perilaku sehari-hari, apalagi dalam perilaku layanan publik tadi. Mau layanan petugas transjakarta, layanan pak ogah di jl. raya pondok gede yg nyebrangin kita tiap pagi, sampe layanan petugas drive thru McD terbaru di Buaran.
Yang jelas, warga 'kampung' yang mau menjadi 'warga kota', termasuk saya, emang harus belajar dan aware terhadap 'tata cara' ber'kota' di semua aspek ... you know what I mean lah ....
he..he..he..
miss u
-z-
For those that need difficulty cash between paydays, concession the differences in payday loan lenders can determine how hands down and at you get the banknotes you need. It used to be that you had to work to a doc fingers on and discontinuation repayment for an rubber-stamp on your payday allowance, after submitting copies of surcease stubs and bank statements. Modern, there is a inconsistency in payday loan lenders because there are some that presentation quick and advantageous online options. When you take advantage of online options, it is doable to lay hold of split-second approvals and should prefer to the gelt you need in a quandary of a few hours, or less.
Best Online Payday Loans and Cash Advance:
pay day loans uk
[url=http://paydayloanmoneyfast.com/loan/fast-payday-cash-49]Fast payday cash[/url]
http://paydayloanmoneyfast.com/loan/instant-cash-advance-online-cb - Instant cash advance online
<< Home

